Minggu, 20 April 2008

Petani Garam Cirebon Butuh Penguat Modal


CIREBON, SC – Kalangan petani garam di Kabupaten Cirebon saat ini membutuhkan fasilitas bantuan permodalan dari pemerintah maupun lembaga keuangan yang ada. Mereka berharap sekali bantuan tersebut guna meningkatkan usaha produksi dan pemasaran garam.

Salah satu petani garam di wilayah Pangarengan Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, yang ditemui SC di tempat usaha produksi garamnya, menceritakan tentang sulitnya memperoleh fasilitas bantuan permodalan dari pemerintah.

Petani itu mengaku pernah mengajukan bantuan permodalan namun sampai sekarang tidak ada realisasinya. Padahal, pengajuannya waktu itu dibantu salah seorang anggota DPRD Kabupaten Cirebon.

Namun, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon selaku leading sector pemerintah daerah, tak mampu memenuhi harapan petani garam tersebut. Alasannya klasik, yakni ”terbatasnya anggaran APBD”.

Hal itu seperti yang diungkapkan Kepala Disperindag Kabupaten Cirebon Drs. Dadang Tresnayadi, melalui Kasi Industri, Agro dan Kimia, Supardi, kepada SC, Kamis (24/3). ”Jumlah petani yang memperoduksi garam di Kabupaten Cirebon ada mencapai seribu orang. Sementara, anggaran yang tersedia di APBD sangat terbatas. Tentunya kami tidak bisa memenuhi semuanya,” jawab Supardi.

Supardi menambahkan, untuk mengatasi keterbatasan anggaran APBD tersebut, pihak Disperindag Kabupaten Cirebon akan membantunya lewat pengajuan bantuan ke Disperindag di Propinsi. ”Alternatif lainnya, realisasi bantuan modal harus bersabar menunggu pemasukan pengembalian bantuan modal bergulir tahun lalu. Untuk lebih jelasnya, silahkan anda tanyakan ke Pak Didi, bagian yang menangani masalah ini,” kata Supardi.

Hanya saja yang perlu diketahui, lanjut Supardi, Disperindag beberapa tahun lalu pernah memberikan bantuan berupa peralatan produksi kepada para petani garam. Hanya saja, keawetan peralatan produksi tersebut tidak bertahan lama. Peralatan bantuan yang terbuat dari besi itu cepat berkarat, keropos dan rusak oleh air garam.

Pemberian fasilitas bantuan modal ini, menurut Supardi, sebenarnya tidak hanya mengandalkan pemerintah saqja, melainkan perlu dukungan dari lembaga keuangan yang ada. Misalnya, fasilitas bantuan berupa kredit pinjaman lunak. Hanya saja, pihak perbankan sepertinya kurang tertarik dengan prospek usaha produksi garam. Sehingga, kemudahan memperoleh bantuan UKM seperti yang digembar gemborkan pemerintah selama ini berjalan masih setengah hati. Bambang

Tidak ada komentar: